Petani kota bukan sembarang petani. Dia seorang sarjana pertanian yang tidak mau bekerja di departemen Pertanian apalagi di Bank. Ia lebih suka berkumpul dengan para petani lain yang kerjanya menyirami tanaman, memacul tanah, menanam benih dan bibit,dan sejuta aktivitas petani.
Petani kota memang lebih senang menjadi dirinya sendiri. Ia ingin lebih memberikan kepada masyarakat dengan caranya sendiri. Bukan seperti cara seorang PNS atau karyawan perusahaan swasta yang pada buntutnya lebih sering kekurangan biaya dalam memenuhi kebutuhan keluarga eh..tergoda oleh dana proyek milik para petani. AKhirnya saluran irigasi hanya jadi setengahnya, kalaupun turab saluran, jadi semuanya, engga lama kemudian pada gugur dikikis air. Konon, karena campuran semennya sedikit banget.
Petani yang dalam kehidupan bagaikan sebuah sandal jepit, sudah dipakai untuk berlindung dari lapar, eh.harganya disuruh untuk murah terus terusan, padahal bahan bahan baku pertanian terus dinaik naikkan.
Senin, 07 September 2009
Langganan:
Entri (Atom)
